Article

JANGAN TAKUT DAN JANGAN BERSEDIH!

Oleh: Yuana Ryan Tresna

Rasa khawatir dan sedih adalah hal yang manusiawi. Orang-orang beriman dulu termasuk Nabi Luth ‘alaihissalam juga pernah merasakan hal yang sama. Apa yang dikatakan Malaikat kala itu? Mereka mengatakan لا تخف ولا تحزن, jangan takut dan jangan bersedih hati. Maka harapan itu muncul kembali.

Saudaraku, ujian dakwah itu mungkin terasa makin berat. Rintangan juga terasa menyesakkan dada. Belum lagi fitnah yang bertebaran dan makar jahat rezim yang anti Islam. Apa yang harus kita lakukan? Kita harus bersikap sebagaimana para ulama dalam menghadapi fitnah dakwah ini, sehingga semua hal atsarnya menjadi positif, jangan malah memberikan dampak negatif pada dakwah. Justru harus menambah semangat, tekad, dan himmah kita. Juga yang tidak kalah pentingnya adalah sikap sabar dan ketsiqahan kita.

Tempat Peraduan

Mari kita renungkan firman-Nya,
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya: 35).

Kepada siapa kita mengadu? Hanya kepada Allah! Seperti aduannya Nabi Ya’qub ‘alaihissalam saat lama berpisah dengan putra tercinta, Yusuf ‘’alaihissalam,
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ
“Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan penderitaan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86).

Jika yang kita lakukan adalah kebaikan, seperti dakwah menyerukan penerapan Islam, maka tak pantas kita bersedih. Nabi mengabarkan bahwa itu adalah tanda keimanan,
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَاتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَاتُهُ فَهُوَ الْمُؤْمِنُ
“Barangsiapa yang merasa bergembira karena amal kebaikannya dan sedih karena amal keburukannya, maka ia adalah seorang yang beriman” (HR. Tirmidzi).

Oleh karenanya, Nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam senantiasa berlindung dari rasa sedih. Diantara doa yang sering dipanjatkan Nabi adalah,
اللهم إني أعوذ بك من الهم والحزن ..
“Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari gundah gulana dan rasa sedih…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bisikan Setan

Bagaimana menyikapi makar dan tipu daya mereka terhadap dakwah dan pengembannya? Allah-lah sebaik-baiknya pembuat makar (membalas makar mereka). Mereka berbisik-bisik, rapat dan persekongkolan, koordinasi jahat, menghasut, membuat konsfirasi, dst. untuk membuat madharat pada dakwah. Ketahuilah itu semua datangnya dari setan. Tapi yakinlah bahwa hal itu tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikitpun. Tidak akan mampu mencelakai wali-Nya sedikitpun, kecuali atas kehendak Allah. Kuncinya lagi-lagi adalah tawakal. Allah azza wa jalla berfirman,

إِنَّمَا النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Sesungguhnya pembicaraan bisik-bisik itu hanyalah dorongan dari setan. Supaya menjadikan hati orang-orang beriman sedih. Padahal pembicaraan rahasia untuk menggunjing tidak akan merugikan orang-orang beriman sedikitpun, kecuali dengan kehendak Allah. Hanya kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal” (QS. Al-Mujadilah: 10).

Ayat di atas terkait pembicaraan musuh-musuh kaum mukmin terhadap orang-orang mukmin yang isinya makar, tipu daya dan keinginan buruk adalah berasal dari setan yang tipu dayanya lemah. Makar itu bertujuan agar orang mukmin lemah dan bersedih. Allah subhanahu wa ta'aala telah menjanjikan kaum mukmin untuk memberikan kecukupan dan pertolongan-Nya, Dia menjelaskan bahwa makar yang buruk tidaklah menimpa kecuali kepada pelakunya. Oleh karena itu, betapa pun mereka telah berbisik-bisik dan membuat makar, namun bahayanya kembali menimpa mereka dan tidak membayahakan kaum mukmin kecuali atas izin Allah subhanahu wa ta'aala. Pada akhirnya cukuplah kita bersandar kepada-Nya dan yakin terhadap janji-Nya, karena barang siapa bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya dan mengurus urusan agama dan dunianya.

Jangan Bersedih

Tidak ada alasan untuk bersedih,
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 139).
وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ
“Dan janganlah kamu berduka cita terhadap mereka.” (QS. An-Nahl: 127)
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ
“Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At-Taubah: 40)
لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Mereka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 38)

Mereka Juga Kelelahan

Apakah kita menyangka pembuat makar itu senang dan bersuka cita? Sekali-kali tidak! Mereka juga kepayahan dalam membuat makar itu. Allah mengabarkan kepada kita,
وَلا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ إِنْ تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لا يَرْجُونَ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا
“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kamu rasakan, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana." (QS. An-Nisa: 104).

Ayat ini turun ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus beberapa orang untuk mengejar Abu Sufyan dan kawan-kawannya saat mereka pulang dari perang Uhud, lalu mereka mengeluhkan luka-luka mereka.

Jika kita lelah, mereka juga lelah. Jika kita kurang tidur, mereka juga kurang tidur. Jika kita sakit, mereka juga sakit. Lantas apa bedanya? Bedanya kita berharap sesuatu sedangkan mereka tidak berharap itu. Apa itu? Adalah kemenangan dan pahala. Mungkinkah mereka yang berusaha memadamkan cahaya agama Allah berharap pahala? Mungkinkah mereka yang melecehkan khilafah (yang merupakan ajaran Islam) dan menghadang pejuangnya berharap ridha dari Allah? Akal sehat kita akan mengatakan tidak mungkin.

Kemenangan Kian Dekat

Tidak kah kita belajar dari kisah Nabi Yusuf dan Nabi Musa ‘alaihissalam? Nabi Yusuf ‘alaihissalam dibuang ke sumur oleh saudaranya. Tapi justru peristiwa itu mengantarkan beliau untuk masuk ke jantung Kota Mesir. Beliau ditolong oleh kafilah dagang dan dibawa ke Mesir, hingga akhirnya menjadi pemimpin hebat di Mesir. Itulah skenario Allah azza wa jalla.

Kisah Nabi Musa ‘alaihissalam juga sama. Masuk ke jantung kerajaan Fir’aun, dan pada akhirnya menghentikan kesombongan Fir’aun untuk selama-lamanya. Fir’aun membuat UU subversif dengan memerintahkan membunuh setiap anak laki-laki yang lahir. Dia takut dengan mimpinya sendiri. Tapi skenario Allah telah mengantarkan bayi mungil Musa ‘alaihissalam masuk ke jantung kekuasaannya bahkan dirawat dan dibesarkan disana. Setelah besar, sadar akan bahayanya, Fir’aun hendak melenyapkan Musa dan seluruh pengikutnya. Tapi, pertolongan Allah datang di detik-detik terakhir, dan laut merah menjadi saksi binasanya Fir’aun dan bala tentaranya.
Wallahu a’lam.

[Terinspirasi dari nasihat Ustadz Rokhmat S. Labib, dengan beberapa tambahan dan penyesuaian].

Pelukis Hati

Pelukis Hati

Superadmin at Pelukis Hati

Kebaikan dari Kita adalah Kebaikan untuk Kita